Analisis Transaksional – Teori Psikologi Eric Berne, Murid Sigmund Freud


Home » Psikologi » Analisis Transaksional – Teori Psikologi Eric Berne, Murid Sigmund Freud

Teori Analisis Transaksional Eric Berne ini berdasar pada teori personalitas Freud jika elemen personalitas terbagi dalam id, ego dan super ego. Mode susunan personalitas tersebut disambungkan dengan analisi structural dan transaksional atas ego stage atas posisi ego, yaitu ego anak, ego dewasa dan ego orangtua. Ide dasara. Analisis transaksional ialah ego stage, stroke. Analisis transaksional yang terbagi dalam analisis structural dan analisis fungsional, symbiosys (jalinan yang sama-sama memberikan keuntungan tapi sebetulnya salah)

Teori ini ada di tahun 1949 dan memulai tahun 1962 teori itu mulai dipakai di beberapa negara. Eric Berne sebagai seorang psikiatris dan psikoanalisis namun pada predialeksinya tak pernah jadi riset. Teori yang dipakai untuk menuntaskan permasalahan ialah teori dasar psikoanalisa yang berpengaruh pada transaksi bisnis interpersonal dan keterlibatan non verbal.

Filosofi teori Analisis Transaksional

Dasar yang memicu teori Eric Berne ini ialah jika seluruh orang memiliki kekuatan, sanggup menyukai, prospektif untuk capai perkembangan, punyai dorongan untuk berkembang dan tumbuh dan mempunyai manifestasi diri

Manusia mempunyai niyat yang positif dan tekad untuk berkembang hingga penglihatan analisis transaksional pada manusia ialah positif apabila terjadi kekeliruan manusia dalam menyaksikan dan memandang masalah yang dirasakannya ialah karena factor lingkungan atau orang yang lain memberikan dukungan kekeliruan penilaian itu terjadi.

Analisis transaksional berdasarkan pada decision mode. Pelajari perilaku detil dan memutus sesuatu gagasan hidup sebagai dasar berkembang dan tumbuh. Walau perkembangan dan perubahan seorang dikuasai oleh lingkungan secara kuat tetapi tiap orang mempunyai style sendiri yang unik. Semenjak keputusan ditetapkan pribadi sudah mempunyai power untuk mengubah dan membuat satu keputusan baru. Tidak seorangpun yang bisa membuat kita berbeda, tapi diri sendiri yang bakal merubahnya.

Ide dasar teori Analisis Transaksional

Analisis transaksional yang terbagi dalam analisis structural dan analisis fungsional, symbiosys (jalinan yang sama-sama memberikan keuntungan tapi sebetulnya salah). Mode susunan personalitas disambungkan dengan analisi structural dan transaksional atas ego stage atas posisi ego, yaitu ego anak, ego dewasa dan ego orangtua.

Ego stage (kondisi ego)

Transaksi bisnis interpersonal yang konpleks sanggup dipahami saat mengenali personalitas manusia yang dibuat dari 3 ego sate, di mana masing-masing ego state masuk ke pemikiran, hati dan sikap yang terlihat dalam hubungan sama orang lain. Ego state yang terlihat pada diri seorang ialah orangtua, dewasa dan anak-anak dan hubungan di antara ke-3 nya (kontaminasi) yang bakal membuat fondasi yang kuat.

Baca Juga: Artikel Psikologi Lainnya

Ide personalitas ini lebih banyak digunakan dalam psikoterapi, dalam sektor pengajaran dan pada sektor diskusi sekarang ini. Bangunan yang diatur dari 3 state itu diberi nama scond order analysis (Wollams dan Brown, 1979); Corsini dan Wedding, 1989) scond order analysis terbagi dalam analisis susunanan, yang sebagai wakil elemen biologis dan histories dari ego state, Analysis sistematis sama dengan riwayat masing-masing ego sate dan kemampuan bawaan yang diprediksikan keluar. dan analisis fungsional yang sebagai wakil bagaimana ego state dipakai untuk menyambungkan dirinya sama orang lain ((Wollams dan Brown, 1979).

Eric Berne dalam Corsini dan Wedding (1989) membandingkan ego state jadi tiga jenis. Ketidaksamaan itu bisa disaksikan dan terlihat pada pemakaian kata, pertimbangan emosi, bentuk badan, gesture, tinggi suara atau suara dan gestur. Ego state anak terkadang terlihat inovatif, intuitif dan mengincar kepuasan, terlihat sebagai penentang dan penurut, kondisi itu diberi nama archaeopsyche.

Ego state dewasa terlihat pada sikap realitas dan rasional, yang disebutkan neopsyche yang lebih ke arah pada penghimpunan dan pemrosesan.pemroduksi data. Ego state orangtua diberi nama exteropsyche yang berisi mekanisme nilai, kepribadian dan keyakinan. Ini memperlihatkan ada perkembangan ada kritikan dan kontrol. Ego state orangtua karakternya kerabatal dan cultural maknanya ego state itu dikuasai dan unik pada budaya tertentu yang terlihat dan diinternaloisasi dari dalam keluarga.

Tiga mekanisme ego sebagai susunan individu yang disimboliskan oleh tiga jalinan itu menurut Eric Berne. Ketidaksamaan jalur memperlihatkan kekhasan dan terpisah dan mandiri pada sebuah kesatuan (Corsini dan Wedding, 1989). Berdasar analysis sistematis dan fungsional, karena itu status ego dibagi jadi:

  • status ego anak (somatic child), yang disaksikan dari keperluan, kemauan dan hati dari tubuh yang terekspresikan di kehidupan yang berperan sebagai motivator khusus untuk berperangai. Walau status ego anak diwarnai dengan keperluan, kemauan dan hati, tetapi anak terlihat karakter intuitif, ingin ketahui dan berminat untuk ketahui mengenai dirinya dan dunia luar yang diberi nama little professor. Status ego anak dipisah jadi dua yakni yang bebas dan yang adapted. Anak yang mempunyai kebebasan dalam ekspresikan pemikiran dan persaannya, spontanitas, sedang anak adapted ialah anak yang rajin, penurut atau penurut dengan persyaratan (pemberontak) atau sikap yang ada karena hadiah dari orangtua.
  • Satus ego dewasa dalam anak. Status ego dewasa (Adult) atau kerap diberi nama sebagai computer karena memilki peranan mengumpulakn, mengolah dan menganalsisi data yang masuk
  • Status ego orang dewasa (Parentin the child), yang memvisualisasikan rutinitas memperkuat secara prima dan pada akhirnya berperangai secara automatis. Wujud lain dari ego ini ialah electrode, sebagai istilah yang mengutamakan rsepon yang automatis pada stimulan lingkungan tertentu. Sikap electrode ini sikap seperti bos atau menasihati, mulia, mulia penuh semangat atau energi, sukai mengatur atau mengomentari dan orangtua tipe pengasuh.

Pemakaian ego state pada tiap transaksi bisnis memperlihatkan menguasai dan ada yang protektif atau diasingkan. Ego state yang menguasai itu yang digunakan sebagai cap ego state seorang (Sungkar, 1997). Ego state yang dukcilkan perannya akan turun atau bahkan juga mati. Wollams dan Brown (1979) menerangkan jika ego sate anak yang menguasai diperkembangkan dalam diri seorang dan dia mengucilkan ego dewasa, karena itu pribadi bisa menjadi orang yang nersitik, namun bila ego state orangtua yang menguasai dan ego state dewasa diasingkan ma pribadi akan berkembang jadi paranoid atau psikosis karena wahamnya berkembang.

Ego dipandang sehat bila meningkatkan ego dewasa, ciri-ciri ego dewasa yang diperkembangkan ialah ambil keputusan seorang dari data yang dkumpulkan dan diolah secara RORP (logis, objektif, realisitik dan seimbang

Transaction

Ide ke dua pada Analisis Transaksional ialah transaksi bisnis, yaitu komunikasi secara berganti-gantian antara orang. Analisis transaksional coba mengenali ego state orang yang lakukan transaksi bisnis, dari dan yang dianggap oleh transaksi bisnis hingga mereka bisa mengintervensi dan membenahi kualitas dan efektivitas komunikasi.

Transasksi ialah satu unit komunikasi manusia, atau satu jalinan di antara stimulan dan tanggapan di antara dua status ego seorang atau disebutkan dengan istilah lain sebagai komunikasi (Corsini dan Wedding, 1989). Ada tiga jenjang dalam komunikasi, yaitu social tingkat, komunikasi yang termanifes dan psikological tingkat yakni komunikasi yang laten atau mungkin tidak terlihat. Wollams dan Brown (1979) menerangkan mengenai analisis transaksional ialah seperti berikut:

  • transaksi bisnis komplementer
  • transaksi bisnis silang
  • transasksi uterior
  • Strokes

Stroke sebagai unit yang penuh perhatianyang memberinya perhatian ke pribadi (Wollams dan Brown, 1979).

Orang yang membutuhkan stroke mengenali unit inerpersonal untuk bertahan dan berkembang. Pemahahaman orang dalam memberikan dan terima stroke secara positif dan negatif dan mengubah skema yang kurang sehat jadi sehat sebagai tugas analisis transaksional.

Menurut Corsini dan Wedding, (1989) motivasi dasar dari hubungan manusia ialah atas keperluannya pada strokes (jalinan dan pengenalan manusia). Positif stroke lebih bagus dari negatif stroke namun negatif stroke lebih bagus daripada tidak ada strokes. Bila seorang tidak memperoleh strokes baik pada wujud positif atau negatif maka alami degradasi dampak selanjutnya mati.

Langkah memperoleh dan memberinya strokes dapat didalami, menyaksikan karakter individu yang unik sesuai personalitas. Strokes dapat berbentuk fisik dan psikis, strokes external dan strokes intern. Makin tinggi umur seorang banyak memerlukan strokes secara psikis. (Wollams dan Brown, 1979).

Baca Juga: Aliran-Aliran Psikologi TERLENGKAP!

Racket and Game

Skema sikap tertentu yang difungsional dipandang seperti game. Game sebagai wujud transaksi bisnis ulterior (terselinap) dengan tingkat overt dan covert yang hasilnya berbentuk hati tidak nikmat untuk ke-2 pemain. Ada perulangan transaksi bisnis tidak langsung untuk memperoleh strokes, sebagai tukar mereka mereinforce hati dan self concept negatif, menekspresikan emosi dan pemikiran langsung. Menurut Corsini dan Wedding, (1989) game akan terjadi saat ada dua tingkat transaksi bisnis yang lain (tingkat psikis dan tingkat sosial) pada saat yang sama

Script Teori Eric Berne

Eric Berne manganggap jika sikap disfungsional sebagai dari hasil kebatasan pembikinan keputusan pada periode kanak-kanak akan kemauan dan tekadnya untuk bertahan. Keputusan yang yang dibikin dinamakn life script. Mengubah script sebagai arah dari analisis transaksional. Poin penting pada periode kanak-kanak tidak cuma proses ambil keputusan mengenai diri kita, tetapi bagaimana seorang menyaksikan ketetapannya pada seseorang karena ini jadi dasar dalam mekanisme apa yang diyakininya. Satu script seorang didasari pada keberadaan keputusan awalannya. Sekali seorang anak terima pesan dari orang tuanya, karena itu ini akan berkembang dan jadi mekanisme nilai dan kepercayaan yang kuat pada diri anak.

Kekeliruan membuat scripet pada anak sebagai tanggapan atas stimulan yang diberi oleh orang tuanya. Tanggapan itu diperkembangkan oleh anak sebagai nilai dan kepercayaan dalam dianya. Jika anak tidak dituntun mengubah apa yang diyakininya karena itu script akan melakat dalam diri anak selama-lamanya (Sungkar, 1997). Menurut Corey (1988) pengaturan script yang keliru dalam diri pribadi akan mengusik bahkan juga menghalangi perubahan ego state dewasa dan selanjutnya akan menghalangi perubahan kekuatan manusia dalam mencapi manifestasi dalam kehidupannya. Factor yang memengaruhi ambil keputusan ialah:

  1. kekurangan power
  2. ketakmampuan tangani stress
  3. ketidakmatangan kepasitas berpikir
  4. kekurangan info
  5. kekurangan penilaian atas datanatau bukti yang berada di luar dianya

Kondisi semacam ini oleh Eric Berne tidak cuma kekeliruan anak semata-mata, tetapi peran dari orangtua atau lingkungan yang ada disekitaran kehisupan anak. Kekeliruan dalam pembikinan script karena pribadi sudah kehilangan atau kelebihan kemampuan yang dibuat berdasarkan persepsinya sendiri. Kemampuan yang ditujukan ialah ide yang sangat berharga untuk pribadi untuk mendapati dan arahkan diri dalm beberapa wujud self destruction (penghancuran diri).

Power dan posisinya selalu berlawanan dengan keperluan yang ada pada pembangunan script (Jacob, 2000). Kondisi semacam itu kerap diberi nama counterscript.

Contracts Analisis Transaksional
Menurut Corsini dan Wedding, (1989), ada empat jenis therapy kontraktual, yakni:

  • kualitasal assent. Kontrak dibikin berdasar kerja sama di antara client dan terapi dalam jalinan membuat kualitasalisme (sama-sama menguntungkan)
  • competensi. Kontrak dilaksanakan atasdasar kapabilitas terapi atas ketrampilan yang dipunyai buat menolong client memcahkan permasalahan
  • legal objek. Mengutamakan pembikinan kontrak berdasar padsa jalinan resmi di antara terapi dank lien berdasar ketentuan main yang sudah diatur sesuai karier terapi
  • consideration.Kontrak yang dibikin atas dasar persetujuan bersama
  • Discounting.

Menurut Wollams dan Brown, (1979) masalah emosional mencakup game dan rackets, sikap yang didalami dan dibuat dari jalinan symbyotic yang tidak terlewati, Symbiotik terjadi saat pribadi seperti yang difikirkan atau harpkan, dari mereka membuat satu jalinan keseluruhannya. Jalinan ini diidentikkan oleh transaksi bisnis ego satet yang komplementer dan mekhanisme yang dipakai untuk menjaga ialah potongan harga.

Discounting bukan hanya hilangkan beberapa hal yang positif dari pihak lain tetapi munculkan atau melebih-lebihkan beberapa hal yang negatif dari pihak lain. Menurut Sungkar (1997) perubahan potongan harga pada seorang secara terus-menerus kemungkinan akan membuat sikap manipulatif, korupsi, kolusi karena ada kekeliruan dalam penghimpunan dan pemrosesan.pemroduksi data yang tidak objektif dan logis, tidak realistik dan tidak seimbang. Hingga banyak beberapa hal yang semestinya diperhitungkan tapi di hilangkan dan kebalikannya banyak beberapa hal yang semestinya diacuhkan justru terlalu dibesarkan. Beberapa orang yang menjaga satu simbiosis akan mendistorsi aspek pengalaman intern atau external.

Keadaan berikut yang diberi nama potongan harga. Harapan tempat tingkat dalam potongan harga, yakni:

  • keberadaan discounting
  • signifikansi discounting dan
  • peluang mengubah discounting
  • kekuatan individual discounting

Tujuan Analisis Transaksional

Ada banyak arah yang bakal diraih dalam analisis transaksional. Arah itu ialah:

  • Memabntu klien saat membuat keputusan baru yang terkait dengan sikap dan arah kehidupan sekarang ini dan di sini
  • Menggerakkan klien supaya mengetahui jika kebebasab dianya untuk pilih sudah dibatsi oleh keputusannya sebagai opsi di periode lalu
  • Gantikan pola hidup yang dotandai dengan permainan yang manipulatif oleh skenario hisup dengan pola hidup otonom yang diikuti oleh ada kesadarn, spontanitas dan keakraban
  • Melepaskan ego orang dewasa dari rencana dan dampak-pengaruh yang dibuat oleh ego orangtua dan ego anak
  • Mengajari klien untuk mengenal, mengetahui dan menguraikan ke-3 ego, sepanjang ego itu ada dalam transaksi bisnis dengan kelompoknya
  • Menolong klien untukbisa berpikir lebih realistik dan cari alternative buat jalani kehidupan yang otonom
  • Perolehan otonom yangdiwujudkan oleh penemuan kembali tiga karakter: kesadarn, spontanitas dan keakraban.Otonom disimpulkan sebagai kekuatan atur diri, tentukan nasib sendiri, menanggung tanggungjawab sendiri atas perlakuan dan hati dan membuat pola-pola yang tidak berkaitan dan tidak patut untuk hidupnya sekarang ini