Curhatan Seorang Dokter yang Gagal Move On Selama 8 Tahun

Home » Cerita Kamu » Curhatan Seorang Dokter yang Gagal Move On Selama 8 Tahun

Suatu pagi terdengar suara nada handphone berdering, tepatnya di bulan Desember. Akupun tergerak untuk melihat nomornya, ternyata belum terdaftar dalam phone book ku. Takut ada hal penting, akhirnya aku memutuskan lekas lekas menjawab.  

“Hallo… dengan mas Gun ya? Bisa saya appointment untuk sesi konseling?” tanya seorang wanita yang suaranya terdengar berusia sekitar 40 tahun lebih..  

“Ooh tentu bisa, untuk tempat dan waktu bisa sesuai kesepakatan” jawab ku sambil memikirkan sepertinya klien kali ini adalah orang berpendidikan.

Tentu, hal ini karena etika dalam membuat janji temu yang sangat elegan menurut ku. Tidak seperti bocil kemarin sore yang pecicilan.. hehe

Singkat cerita, akhirnya kami bertemu pagi-pagi sekali. Benar dugaanku, beliau adalah seorang dokter yang saat ini sedang menjalani pendidikan spesialis di salah satu Universitas Ternama di tempat tinggal ku saat itu.

Beliau juga seorang ibu dengan 3 anak yang sudah remaja, memiliki suami yang baik, religius, tampan & mapan. Sungguh terlihat seperti hidup idaman.  

“hmm… life goal banyak orang nih.. terus apa masalahnya ya?” pertanyaan yang berkecambuk dalam otak ku saat itu.  

Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan satu teknik andalan yang sering digunakan jika terjebak dalam situasi konseling bersama emak-emak, namanya teknik PDC (pancing dikit curhat).

Yes!! teknik tersebut berhasil… Ia bercerita panjang lebar mengenai masalahnya…

Ternyata, masalah yang dialami cukup serius tapi menghibur.

Pelan-pelan Ibu dokter itu becerita. Akhir-akhir ini dia terpikir mengenai mantan kekasihnya dulu. Anehnya, tiba-tiba mantan kekasihnya itu menghubunginya kembali setelah sempat terlintas di pikirannya.

“oh ya? terus gimana” jawabku sambil tersenyum kecil dan pura-pura ramah ala terapis dan konselor lainnya.

Beliau akhirnya becerita panjang lebar mengenai kisah cintanya saat muda. Kisahnya kandas karena beliau memutuskan untuk memilih pria yang diinginkan orang tuanya.

Memang benar, jika dibandingkan antara dua pria tersebut, pria pilihan orang tuanya jauh lebih baik (menurut versi budaya yang berlaku Indonesia).

Pria pilihan orang tuanya benar-benar pria yang sopan, religius, ramah, halus dan tentu mapan karena profesinya sebagai dokter ahli bedah.

Menurut Ibu dokter tersebut pun demikian, ia berkata “seharusnya saya juga bahagia, rumah tangga saya sangat harmonis, itu adalah impian setiap rumah tangga dalam kehidupan”.

“Tapi entahlah, mungkin seperti orang yang suka makan bakso. Sefavorite apapun kalau makannya tiap hari ya bosen juga, begitu juga hidup, bahagia terus juga bosen ya??” tambahnya.

Lalu apa yang sebenarnya Anda inginkan dalam hal ini?” tanyaku pada Ibu dokter cantik tersebut.

“Saya bingung apa yang harus saya lakukan, saya ingin stop berkomunikasi tapi saya pikir saya tidak salah karena dia juga sudah beristri. Mas mungkin akan merasakan hal yang sama saat sudah menikah lama seperti saya” tegasnya.

Karena Si Ibu dokter tersebut tidak menjawab pertanyaan yang saya maksudkan, akhirnya saya putuskan untuk menanyakan kembali pertanyaan yang sama.

“Saya ingin sekali bertemu dengannya dan bersama dengannya, tapi itu sudah tidak mungkin dengan keadaan saat ini” jawabnya.

Jika demikian keadaannya, berarti apa yang bisa Anda lakukan?” pertanyaan demi pertanyaan kembali ku lontarkan dengan harapan, beliau mengubah cara berpikirnya.  

(Pertanyaan-pertanyaan tsb tidak dapat dijelaskan disini, karena ini menyangkut teknik-teknik yang digunakan dalam sesi terapi dan ini bersifat rahasia. Bukan dapur umum yang bisa diakses siapa saja.)

Tidak sia-sia, sesi berakhir dengan beliau menerima keadaannya saat ini. Sesi tersebut berakhir dan ditutup dengan kalimat yang cukup bagus dari si Ibu dokter.

“Mungkin benar yang banyak orang bilang bahwa move on itu bukan soal waktu, 8 tahun saya menikah tapi tetap dengan bayangan yang sama”

“Ternyata move on juga bukan tentang melupakan, semakin saya berusaha melupakan itu justru akan membuat saya semakin ingat”

Saat ini saya hanya perlu menerima kenyataan bahwa apa yang terjadi tidak pernah 100% sama dengan apa yang kita harapkan, saya hanya tidak bersyukur saja...”

“Sudah saatnya saya menjalani hidup saya lagi”

NB: Dalam obrolan kami ada satu script percakapan yang sangat unik dari Ibu dokter tersebut, begini:

“Jujur saja mas, saat saya melakukan hubungan suami istri… saya tidak pernah orgasme JIKA tidak memikirkan mantan kekasih saya dulu hahaha… dan tau tidak mas, dalam ilmu kedokteran ‘orgasme istri’ itu bisa mempengaruhi jenis kelamin calon janin lho…”

~ Mbak Dokter

Untuk masalah ini NO COMENT! haha

Mau curhat juga? Klik: Curhat Gratis