Konseling Kelompok – Definisi, Tujuan, Manfaat, Tahapan dan Ukuran


Home » Bimbingan Konseling » Konseling Kelompok – Definisi, Tujuan, Manfaat, Tahapan dan Ukuran

Konseling Kelompok, salah satu jenis layanan yang sudah tidak asing lagi bagi Anda yang ada di bidang konseling psikologi, atau guru BK. Untuk yang masih kuliah, semoga cepat lulus ya. Sesuai dengan judulnya, halaman ini akan memberikan penjelasan yang berisi tentang Definisi Konseling Kelompok, Tujuan, Manfaat, Tahapan, dan Ukuran yang Ideal dalam konseling kelompok.

Oh iya, apabila kamu merasa konten ini bermanfaat. Bantu saya untuk klik iklan yang muncul ya.. dengan begitu kamu udah membuat blog ini tetap aktif. Terima kasih banyak.

Definisi Konseling Kelompok

Konseling kelompok sebagai satu proses jalinan interpersonal di antara seorang konselor atau beberapa konselor dengan satu kelompok client (konseli).

Pada proses itu konselor berusaha menolong tumbuhkan dan tingkatkan kekuatan client untuk hadapi dan menangani masalah atau beberapa hal sebagai kepedulian masing-masing client melalui; peningkatan pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan sikap client yang pas dengan manfaatkan situasi kelompok (Sugiyanto).

Menurut Corey (2006) dalam Budi Astuti (2012) menerangkan jika konseling kelompok lebih memberinya perhatian pada umumnya pada persoalan-permasalahan periode pendek dan tidak begitu memberinya perhatian pada treatment masalah sikap dan psikis.

Konseling kelompok memusatkan diri di proses interpersonal dan taktik penuntasan permasalahan yang terkait dengan pertimbangan, hati, dan sikap yang diakui. Sistem yang dipakai ialah support dan operan balik (masukan) interaktif dalam sebuah rangka berpikiran waktu itu juga.

Diperlengkapi oleh opini Gazda (1978) jika konseling kelompok ialah satu proses di antara individu yang aktif, yang terkonsentrasi pada pertimbangan dan sikap yang diakui.

Proses itu memiliki kandungan beberapa ciri teraupetik seperti pengungkapan perasaan dan pikiran secara bebas, tujuan pada realita, transparansi diri berkenaan semua hati dalam yang dirasakan, sama-sama yakin, sama-sama perhatian, sama-sama pemahaman dan sama-sama memberikan dukungan.

Beberapa client bisa manfaatkan situasi komunikasi antar-pribadi dalam kelompok untuk tingkatkan pengetahuan dan akseptasi pada nilai-nilai kehidupan dan semua tujuan hidup, dan untuk belajar dan atau hilangkan satu sikap dan sikap tertentu.

Baca Juga: Teori Bimbingan Konseling

Tujuan Konseling Kelompok

Menurut literatur professional berkenaan konseling kelompok, seperti terlihat dalam kreasi Erle M. Ohlsen (1977) Don C. Dinkmeyer dan James Muro (1979), dan Gerald Corey (1981) bisa diketemukan beberapa tujuan umum dari servis tuntunan berbentuk konseling kelompok yaitu seperti berikut:

  1. Masing-masing client sanggup mendapati dan pahami dirinya dengan lebih bagus. Berdasar pengetahuan itu, client ikhlas terima dirinya serta lebih terbuka pada aspek positif pribadinya.
  2. Beberapa client meningkatkan kekuatan berbicara di antara satu pribadi dengan pribadi lainnya, hingga mereka bisa sama-sama memberinya kontribusi dalam menuntaskan beberapa tugas perubahan yang unik pada tiap fase-fase perubahannya.
  3. Beberapa client mendapat kekuatan atur dirinya dan arahkan hidupnya sendiri, diawali dari jalinan antar-pribadi dalam kelompok dan diteruskan di kehidupan setiap hari di luar lingkungan kelompoknya.
  4. Beberapa client jadi lebih sensitif pada keperluan seseorang serta lebih sanggup meresapi atau pahami hati seseorang. Kesensitifan dan pengetahuan ini akan membuat beberapa client lebih peka pada keperluan psikis diri kita dan seseorang.
  5. Masing-masing client memutuskan satu sasaran yang ingin diraih, yang direalisasikan dalam sikap dan sikap yang lebih bernilai.
  6. Beberapa client lebih mengetahui dan meresapi arti dari kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama, yang memiliki kandungan tuntutan terima seseorang dan keinginan akan diterima oleh seseorang.
  7. Masing-masing client makin mengetahui jika beberapa hal yang memprihatinkan untuk dianya sering memunculkan rasa sedih dalam hati seseorang. Dengan begitu, client tidak berasa terisolir kembali, seakan-akan cuman dirinyalah yang alami permasalahan itu. Beberapa client belajar berbicara dengan semua anggota kelompok secara terbuka, dengan sama-sama mengahrgai dan sama-sama menyimpan perhatian.

Manfaat Konseling Kelompok

Manfaat konseling kelompok yakni bisa mengentaskan persoalan yang ada di pelajar dan pelajar latihan aktif dalam dinamika kelompok. Menurut Hartini dan Atika (2016: 73) merinci manfaat konseling kelompok seperti berikut:

  1. Ringkas, sama-sama anggota dapat belajar
  2. Anggota akan sama-sama belajar mengenai sikap baru
  3. Anggota sama-sama belajar untuk ekspresikan hati dan tingkatkan rasa optimis.
  4. Anggota akan sama-sama terima, membantu, dan memiliki empati hingga bisa tumbuhkan hati untuk diterima dan dipahami.
  5. Efektivitas tenaga dan waktu di mana konselor bisa tangani semakin banyak konseli pada sebuah sesion konseliing dibanding pada konseling individu.
  6. Anggota bisa lakukan brainstorming bersama yang hasilkan jumlah dan kualitas gagasan yang lebih dibanding jika dilaksanakan seorang diri.

Adapun manfaat konseling kelompok menurut Winkel dan Hastuti (2013: 593) jika lewat hubungan dengan semua anggota kelompok mereka penuhi beberapa keperluan psikis, seperti keperluan untuk menyesuiakan diri dengan rekan-rekan sepantarannya dan diterima oleh mereka; keperluan untuk tukar pemikiran dan share hati; keperluan menemukaan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan; dan keperluan untuk jadi lebih berdikari.

Sedang menurut George dan Critiani (dalam Latipun, 2008:183) manfaat konseling kelompok:

  1. Layanan konseling dapat efektif karena konselor bisa memberinya 1x layanan tetapi ke pribadi yang banyaknya semakin banyak
  2. Konseling kelompok memberinya konstekstual interpersonal sosial untuk menangani permasalahan interpersonal
  3. Konseli mempunyai peluang untuk mengaplikasikan sikap baru
  4. Memungkinkannya konseli untuk tempatkan permasalahan mereka dalam prespektif dan untuk pahami bagaimana ke-2 nya sama dan berlainan dari pihak lain.
  5. Konseli sama-sama memberikan dukungan satu sama lainnya
  6. Konseli belajar keterampilan komunikasi interpersonal
  7. Konseli dikasih peluang memberikan dan terima kontribusi

Berdasar opini di atas, manfaat konseling kelompok ialah anggota kelompok bisa sama-sama belajar untuk ekspresikan hati, tingkatkan keyakinan diri, sama-sama membantu, serta lebih efektif karena konselor bisa memberinya 1x layanan tetapi ke pribadi yang banyaknya semakin banyak. Konseling kelompok mempunyai beberapa pendekatan, satu diantaranya ialah pendekatan behavior yang ada tehnik fashion.

Konseling kelompok dalam tehnik fashion tawarkan keunggulan dibanding dengan konseling pribadi pada kenaikan efikasi diri dan keterdisiplinan belajar pelajar. Layanan konseling kelompok mempunyai manfaat dalam menolong anggota kelompok yang alami persoalan yang serupa berkaitan efikasi diri dan keterdisiplinan belajar.

Baca Juga Teori Lainnya Tentang Bimbingan Konseling

Tahapan Konseling Kelompok

Tahapan konseling kelompok menurut mode Nixon dan Glover, ialah seperti berikut:

a. Tahapan Pembukaan dalam Konseling Kelompok

Ditempatkan dasar untuk peningkatan jalinan antar-pribadi (working relationship) yang bagus, yang memungkinkannya perbincangan terbuka dan terukur pada penuntasan permasalahan. Hal yang paling dasar ialah pembukaan awalnya proses konseling kelompok, jika kelompok sama-sama berjumpa untuk pertama kalinya.

Ingat jumlah tatap muka tentu lebih satu barangkali, karena itu pertemuan-pertemuan selanjutnya menggunakan satu pembukaan, tapi triknya akan lain dibandingkan dengan pembukaan pada tatap muka yang pertama kalinya.

1) Jika sama-sama berjumpa untuk pertama kalinya, beberapa konseli disongsong oleh konselor. Selanjutnya diteruskan konselor yang mengenalkan diri dengan mengatakan nama, usia, tingkat pengajaran, dan lama waktunya eksper di atas lapangan. Dan sedikit bercerita mengenai asal-usulnya.

Kemudian gantian semua anggota kelompok sama-sama mengenalkan diri, dengan menyebutkan nama, usia, alamat, kelas, dan program study/tugas, dan bercerita sedikit berkenaan asal usulnya. Perjumpaan ini kurang lebih berperan sebagai basa-basi, agar beberapa konseli bisa sedikit beradaptasi dengan keadaan tegang.

Selanjutnya mereka dengarkan keterangan yang diberi oleh konselor, ajukan pertanyaan mengenai beberapa hal yang belumlah jelas, dan mengatakan kerelaanya untuk ikuti tata-cara yang diputuskan.

Lalu konselor memberinya serangkaian keterangan yang dibutuhkan, diteruskan beberapa konseli menyampaikan deskripsi permasalahan yang mereka rasakan dengan materi dasar sebagai bahan dialog.

2) Jika kelompok berjumpa kembali untuk meneruskan perbincangan sebelumnya, konselor menyongsong kehadiran beberapa konseli selanjutnya ajak untuk meneruskan dialog bersama sesudah memberinya rangkuman mengenai perkembangan kelompok sampai di saat tertentu pada proses konseling.

b. Keterangan Permasalahan

Masing-masing konseli mengungkapkan permasalahan yang ditemui terkait dengan materi dialog, sekalian mengutarakan pemikiran dan hatiya secara bebas.

Sepanjang seorang konseli mengutarakan apa yang dipandangnya perlu disampaikan, konseli yang lain dengarkan dengan benar-benar dan usaha meresapi pernyataan perasaan dan pikiran temannya.

Mereka bisa menyikapi pernyataan rekan dengan memberinya komentar singkat, yang memperlihatkan pernyataan itu sudah diamankan dengan tepat.

Karena konselor di akhir pembukaan telah memberinya peluang untuk bicara menurut selaranya masing-masing, diharap beberapa konseli segera dapat menangani rasa ragu untuk buka isi hatinya.

Sekalian seorang konseli mengutarakan pemikiran dan hatiya, konselor juga turut dengarkan dengan cermat, menolong konseli itu untuk mengutarakan diri dan memperlihatkan pengetahuannya dan penghayatannya, dengan memakai beberapa tehnik pemantulan (masukan) seperti refleksi pemikiran dan verifikasi hati.

Jika mana konseli lain menyikapi pernyataan temannya dengan kalimat yang kurang mencukupi, konselor menolong merangkum lebih pas, dan minta operan balik ke pembicara apa memang itu yang diartikankannya.

Sesudah semua konseli usai mengutarakan permasalahannya menurut penglihatannya masing-masing, konselor merangkum apa yang disebutkan konseli dan menyarankan satu pendefinisian permasalahan yang biasa, yang meliputi semua pernyataan yang sudah disampaikan oleh beberapa konseli.

Pendefinisian umum itu dijajakan ke kelompok untuk diterima atau diganti sekedarnya, sampai anggota terima pendefinisian itu sebagai konkretisasi (realisasi) dari materi dialog.

c. Penggalian Latar Belakang Permasalahan

Babak ini sebagai pendamping dari babak keterangan permasalahan, karena pada babak ke-2 beberapa masalah yang diutarakan beberapa client belum menyuguhkan deskripsi komplet berkenaan posisi permasalahan dalam keseluruhnya keadaan kehidupan masing-masing client. Hingga pada babak ini dibutuhkan keterangan lebih detil dan dalam.

Oleh karenanya, masing-masing konseli dalam babak analitis kasus ini menambahkan pernyataan perasaan dan pikiran sesuai panduan yang diberi oleh konselor.

Sama dalam babak ke-2 di atas, beberapa konseli dengarkan pernyataan yang sudah diberi oleh rekan tertentu dan menyikapi pernyataan itu dengan memberinya komentar singkat, yang memperlihatkan pengetahuannya atau minta keterangan selanjutnya dengan menanyakan.

Secara umum beberapa pernyataan yang lebih dalam dan men-detail itu membuat situasi ketergantungan dan kebersama-samaan (cohesion), hingga mereka makin siap untuk cari penuntasan bersama atas permasalahan yang ditemui bersama.

Pada babak paling akhir ini, atas panduan konselor, beberapa konseli tentukan kondisi diri yang diimpikan, yakni kondisi bagus yang bakal ada sesudah permasalahannya tersudahi.

d. Penuntasan Permasalahan

Berdasar apa yang sudah dikeduk dalam babak analitis kasus (keterangan dan penggalian masalah), konselor dan beberapa konseli mengulas bagaimana masalah bisa ditangani.

Kelompok konseli sejauh ini harus turut berpikiran, melihat, dan menimbang, tetapi peran konselor di lembaga pengajaran dalam cari penuntasan pemasalahan secara umum semakin besar.

Oleh karenanya, beberapa konseli dengarkan terlebih dulu keterangan konselor mengenai beberapa hal apa yang dilihat dan dibicarakan. Selanjutnya dimantapkan kembali tujuan yang ingin diraih bersama, sesuai dengan kondisi bagus yang sudah dirumuskan pada babak ke-3 .

Misalkan: “Kelompok ingin bisa lakukan rekonsilasi sosial yang bagus”.

Kemudian diulas bersama dengan bagaimana tujuan itu bisa diraih. Dengan memutuskan beberapa beberapa langkah untuk merealisasikan kemauan bersama itu.

Pada babak ini konselor harus arahkan arus perbincangan dalam kelompok, sesuai pendekatan yang sudah diputuskan.

e. Penutup

Jikamana kelompok siap untuk melakukan apa yang sudah ditetapkan bersama, proses konseling bisa disudahi dan kelompok disetop pada tatap muka paling akhir.

Jikamana proses konseling belum usai, tatap muka yang berjalan ditutup untuk diteruskan pada lain hari:

1) Jika proses konseling akan usai, beberapa konseli dengarkan rangkuman yang diberi oleh konselor mengenai jalannya proses konseling dan lengkapinya jika dipandang perlu.

2) Jika proses konseling belum usai dan waktu untuk tatap muka ini kali telah habis, konselor merangkum apa yang telah diulas bersama, memperlihatkan perkembangan apa yang sudah diraih, dan memberinya satu-dua pertanyaan untuk dipikir sepanjang beberapa hari tatap muka selanjutnya.

Keunggulan dan Kekurangan Konseling Kelompok
Konseling kelompok mempunyai beberapa kelebihan dalam realisasinya, yakni:

  • a. Memiliki sifat praktis;
  • b. Anggota belajar latihan sikapnya yang baru;
  • c. Kelompok bisa dipakai untuk belajar ekspresikan hati, perhatian dan pengalaman;
  • d. Anggota belajar ketrampilan sosial dan belajar terkait antar-pribadi lebih mendalam;
  • e. Mendapatkan peluang diterima dan terima dalam kelompok.

Dari sisi beberapa kelebihan yang didapat dalam konseling, ada kekurangan-kelemahan konseling kelompok yang penting jadi perhatian, diantaranya:

  • a. Tidak seluruhnya orang pas dalam kelompok;
  • b. Perhatian konselor lebih menebar atau meluas;
  • c. Alami kesusahan dalam membangun kepercayaan;
  • d. Client menginginkan kebanyakan tuntutan dari kelompok. Kelompok bukan dijadikan fasilitas latihan untuk lakukan peralihan tetapi sebagai tujuan.

Kamu mau Curhat Gratis? Ceritamu akan Diposting di Bog ini,
Langsung Klik Curhat Online

Ukuran Konseling Kelompok

Di pada proses konseling kelompok jumlah anggota dalam kelompok konseling sebagai sesutu yang penting jadi perhatian. Menurut Latipun ( 2011: 152) dalam komunitas konseling kelompok sejumlah anggota sekitaran 4 – delapan orang dan mereka coba cari perpecahan permasalahan secara bersama lewat merajut jalinan positif.

Pakar lain memiliki pendapat Menurut Jacobs (2012: 48) Jumlah anggota konseling kelompok bisa memengaruhi dinamika kelompok, hingga pimpinan seharusnya memerhatikan dengan jeli berkenaan seberapa banyak anggota dalam kelompok.

Akan lebih bagus jumlah bagus anggota kelompok 5 sampai 8 anggota. Untuk kelompok multikultural, pimpinan dan anggota dalam kelompok semakin lebih nyaman dalam jumlah tidak lebih dari 5 anggota kelompok.

Sedang menurut Corey ( 2012, 75) Jumlah anggota untuk satu kelompok bergantung pada beberapa faktor umur konseli, tipe kelompok, pengalaman konselor, dan tipe permasalahan yang dieksploitasi. Untuk kelompok yang dengan anggota orang dewasa, baiknya sejumlah delapan anggota dengan 1 pimpinan. Kelompok yang beranggota anak-anak kemungkinan sekitaran tiga atau empat.

Berdasar beberapa penjabaran itu dalam konseling kelompok jumlah anggota sebagai hal yang penting untuk keefektivan kelompok. Jumlah dalam konseling kelompok disamakan dengan tujuan kelompok tersebut.

Konseling Kelompok Menurut Behavioristik

Menurut kartini kartono (2003:45) behavioristik ialah perilaku, tiap perlakuan manusia atau hewan yang bisa disaksikan. Behavioristik ialah satu penglihatan yang ilmiah berkenaan sikap manusia.

Menurut Gerrald Corey, pendekatan behavioral sebagai implementasi dari beragam jenis tehnik dan proses yang mengakar pada beberapa macam teori mengenai belajar, dan aplikasinya struktural. Beberapa prinsip belajar ialah peralihan sikap ke perilaku yang positif.

Dari rincian berkenaan behavioral menurut ke-2 figur itu, bisa ditarik simpulan jika tehnik behavioral ialah pendekatan yang sudah dilakukan oleh konselor untuk menangani atau mengganti arah perilaku seorang jadi lebih baik dari mulanya.

Itu dia tulisan tentang Definisi Konseling Kelompok, Tujuan, Manfaat, Tahapan, dan Ukuran yang Ideal dalam konseling kelompok. Panjang bukan? Semoga bermafaat.

Daftar Pustaka

  • Asmani, Jamal Ma’ruf. 2010. Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jogjakarta: Diva Press.
  • Latipun. 2006. Psikologi Konseling. Malang: UMM Pres.
  • Lubis, Namora Lumongga. 2011. Memahami Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  • Wingkel, W.S. dan M. M. Srihastuti. 2007. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta. Media Abadi.
  • Abraham, Gun. 2021. Konseling Kelompok. Blog. https://gunabraham.com Diakses pada tanggal (…)
  • Gambar: pexels.com