Logoterapi oleh Viktor Emil Frankl – Biografi dan Pembantaian Nazi

Home » Psikologi » Logoterapi oleh Viktor Emil Frankl – Biografi dan Pembantaian Nazi

Logoterapi Sebuah Teknik terapi yang dikembangkan oleh Viktor Emil Frankl, M.D., Ph.D. Tidak hanya bukunya yang menarik untuk dibahas, tapi biografi dan kisah hidupnya juga sangat menarik untuk disimak.

Frankl dilahirkan di Wina, Austria pada tanggal 26 Maret 1905. Minat Viktor Emil Frankl pada dunia psikologi lahir sejak ia berusia muda. Pada ujian akhir di bangku SMA, ia menulis suatu makalah mengenai psikologi pemikiran filsuf.

Sesudah lulus dari sekolah SMA saat tahun 1923, ia melanjutkan studi kedokteran di Wina University dan lalu mendalami spesialisasi pada bidang neurologi serta psikiatri.

Sebelum logoterapi menjadi sebuah terapi yang terkenal seperti saat ini, Viktor Emil Frankl pernah menjadi korban Holocaust pada masa pembantaian masyarakat Yahudi. Selain itu, ia juga adalah seorang pendiri Analisis Eksistensial, “Aliran Wina Ketiga” pada ranah psikoterapi.

Buku yang ia tulis Man’s Search for Meaning (diterbitkan pertama tahun 1946) menceritakan pengalamannya saat menjadi tahanan kamp konsentrasi. Ia bahkan sempat mengembangkan metode psikoterapinya yang terkenal saat ini.

Logoterapi memiliki esensi mencari makna pada segala wujud keberadaan yang dikembangkan saat Viktor Emil Frankl bahkan dalam pengalaman terkelamnya, dan dengan terapi ini ia memiliki alasan agar tetap bertahan hidup. Frankl menjadi tokoh utama pada terapi eksistensial yang ia ciptakan.

Singkat Cerita, ia memperoleh sebuah gelar doktor bidang filosofi, tidak hanya itu ia juga dapat gelar dokter dalam bidang neurologis serta psikiater. Kemudian Viktor Emil Frankl bekerja dan mendapat kehormatan “The Third Viennese School of Psychotherapy” saat menjabat Kepala Poliklinik Neurologik Vienna.

Viktor Frankl mempopulerkan logoterapi yang dengan jelas mengakui terdapat dimensi spiritual serta bagaimana memanfaatkan dimensi tersebut untuk membuat hidup bermakna (baca: therapy through meaning).

Logoterapi sendiri diambil dari kata ‘logos’ yang artinya ‘meaning’ (baca: makna) dan ‘spirituality’ (baca: kerohanian). Logoterapi termasuk dalam golongan Existential Psychiatry dan juga Humanistic Psychology.

Viktor Emil Frankl mengatakan bahwa kebutuhan seorang manusia yang lebih mendasar ialah kebutuhan seseorang untuk hidup yang bermakna atau lebih berarti.

Keinginan seseorang untuk memiliki makna ialah salah satu bahan bakar motivasi yang terdapat dalam diri seseorang justru lebih mendasar dibanding ‘prinsip kesenangan’ (pleasure principle) yang dikatakan Sigmund Freud atau ‘keinginan untuk berkuasa’ dari Alfred Adler.

Menurut Frankl, manusia akan jatuh “sakit” jika mereka tidak lagi bertanya akan keberadaan dirinya. Hal ini dapat terjadi sebab mereka sedang berada dalam istilah ‘kekosongan eksistensial’.

Ajaran Logoterapi

Logoterapi memiliki cara berpikir bahwa sebuah ‘the meaning of life’ (makna hidup) serta ‘the will to meaning’ (hasrat memiliki hidup bermakna) ialah motif azasi dari seorang manusia yang bisa dilihat pada ranah spiritual (noetic).

Jadi, Frankl berpikir bahwa ada suatu dimensi lain setelah dimensi psikis dan somatik, yaitu adalah dimensi spiritual.

Tampaknya Viktor Emil Frankl tidak memisahkan dimensi fisik, dimensi psikis dan dimensi spiritual manusia. Ia justru menganggapnya sebuah kesatuan yang utuh.

Konflik dasar dimensi spiritual yang timbul dari dalam jiwa seseorang bisa terjadi sebagai akibat atas ketidakmampuannya mengatasi kondisi tertentu pada fisik maupun psikisnya. Konflik ini pada dasarnya bukan berakar dari kerumitan psikologis, malah justru terpusat di hal spiritual serta etis.

Jika terdapat sebuah konflik spiritual dan menyebabkan terganggunya psikologis (neurosis) oada seseorang, Frankl menyebutnya dengan ‘noogenic neurosis’. Namun semua ini terjadi agar melengkapi doroangan spiritual yang telah ada dan lahir pada manusia sejak ia lahir ke dunia dengan cara mengeksplorasi makna atas keberadaan manusia.

3 Landasan Filsafat dalam Logoterapi, yaitu:

  1. The freedom of will: kebebasan tetapi terbatas, bukan kebebasan dari sesuatu tetapi kebebasan mengambil sikap terhadap sesuatu. Kebebasan yang dimaksud di sini adalah kebebasan yang bertanggungjawab.
  2. The will to meaning : merupakan motivasi dasar manusia. Yang dimaksudkan dengan keinginan untuk bermakna adalah : tertuju kepada hal-hal yang berada di luar diri manusia tersebut, bukan berpusat pada diri sendiri (self-centered)
  3. The meaning of life : dapat ditemukan oleh manusia dalam kehidupannya, termasuk pada saat mengalami penderitaan (rasa bersalah, sakit, kematian). Makna hidup setiap orang sifatnya unik, personal, spesifik, dan temporer. Makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapapun, jadi harus ditemukan oleh diri sendiri.

Logoterapi Menjadi Metode Konseling

Dalam penanganan logoterapi, pasien akan dibantu agar menemukan nilai-nilai tertentu dan membangkitkan filosofi konstruktif pada kehidupannya. Maka, peran logoterapis bukan mengobati gejala tertentu yang muncul pada pasien secara langsung, namun mengusahakan perubahan pada perilaku neurotik pasien pertama kali.

Pasien juga perlu memiliki tanggung jawab pada diri mereka sendiri. Dari sini logoterapis membantu mendorong untuk memilih, mencari serta menemukan sendiri makna yang nyata dari eksistensial pribadinya.

Seorang logoterapis melakukan terapi pada klien agar mampu menyusun 3 jenis nilai yang dapat memberi arti terhadap eksistensi, yaitu : experiental values, creative values, dan attitudinal values.

Dalam proses terapi, klien diperlihatkan bagaimana membuat hidup menjadi penuh arti dengan ‘the experience of love’. Pengalaman ini akan membuatnya mampu menikmati ketulusan, keindahan dan kebaikan dan mampu mengerti akan manusia dengan keunikan-keunikan pribadinya. Dengan demikian, diharapkan klien dapat melihat bahwa penderitaan mungkin sangat berguna untuk membantunya dalam mengubah sikap hidup.

Sebagai contoh, situasi yang tidak dapat diperbaiki yang disebut oleh Frankl sebagai ‘takdir’ mungkin harus diterima. “Dimana kita tidak lagi dapat mengubah takdir dengan perbuatan, apapun keadaannya, sikap yang tepat untuk menghadapi takdir adalah kita harus dapat menerimanya

Jadi, tujuan dari logoterapi adalah membangkitkan “kemauan untuk bermakna” dalam individu tersebut, yang bersifat khusus dan pribadi bagi masing-masing orang.

Seseorang dapat bertahan dalam kondisi-kondisi yang paling tidak menguntungkan hanya bila tujuan ini terpenuhi. Namun sebelumnya, seorang konselor sebaiknya mampu mengeksplorasi dinamika proses intrapsikis dan menyelidiki hubungan interpersonal klien melalui psikoterapi tradisional dengan teknik psikoanalisis.

Oleh karena itu, tampaknya Frankl, tidak sama sekali meninggalkan teori Freud dalam psikoanalitiknya, tetapi keberhasilan logoterapi sangat dipengaruhi oleh keberhasilan terapis dalam mengeksplorasi konflik intrapsikis dari klien.

Dengan logoterapi, klien yang menghadapi kesukaran menakutkan atau berada dalam kondisi yang tidak memungkinkannya beraktivitas dan berkreativitas dibantu untuk menemukan makna hidupnya dengan cara bagaimana ia menghadapi kondisi tersebut dan bagaimana ia mengatasi penderitaannya.

Dengan cara ini, klien dibantu untuk menggunakan kejengkelan dan penderitaannya sehari-hari sebagai alat untuk menemukan tujuan hidupnya. Peradaban kita saat ini meyakinkan banyak orang untuk melihat penderitaan sebagai satu ‘takdir’ yang tidak dapat dicegah dan dielakkan.

Akan tetapi logoterapi mengajarkan kepada klien untuk melihat nilai positif dari penderitaan dan memberikan kesempatan untuk merasa bangga terhadap penderitaannya.

Salah satu teknik yang digunakan dalam logoterapi adalah teknik persuasif, yaitu membantu klien untuk mengambil sikap yang lebih konstruktif dalam menghadapi kesulitannya.

Frankl, menggambarkan hal ini dalam satu kasus tentang seorang perawat yang menderita tumor yang tidak dapat dioperasi dan mengalami keputusasaan karena ketidakmampuannya untuk bekerja dalam profesinya yang sangat terhormat.

Paradoxical-intention :

Paradoxical intention pada dasarnya memanfaatkan kemampuan mengambil jarak (self-detachment) dan kemampuan mengambil sikap terhadap kondisi diri sendiri dan lingkungan.

Paradoxical intention terutama cocok untuk pengobatan jangka pendek pasien fobia (ketakutan irrasional). Dengan teknik ini, konselor mengupayakan agar klien yang mengalami fobia mengubah sikap dari ‘takut’ menjadi ‘akrab’ dengan objek fobianya.

Selain itu, teknik paradoxical intention sangat bermanfaat untuk menolong klien dengan obsesif kompulsif (tindakan yang terus-menerus dilakukan walaupun sadar hal itu tidak rasional).

Antisipasi yang menakutkan terhadap suatu kejadian sering menyebabkan reaksi-reaksi yang berkembang dari peristiwa tersebut, misalnya pasien dengan obsesi yang kuat cenderung untuk menghindari obsesif-kompulsifnya.

Dengan teknik paradoxical intention, mereka diajak untuk ‘berhenti melawan’, tetapi bahkan mencoba untuk ‘bercanda’ tentang gejala yang ada pada mereka, ternyata hasilnya adalah gejala tersebut akan berkurang dan menghilang.

Klien diminta untuk berpikir atau membayangkan hal-hal yang tidak menyenangkan, menakutkan, atau memalukan baginya. Dengan cara ini klein mengembangkan kemampuan untuk melawan ketakutannya, seperti yang terdapat juga dalam terapi perilaku (behaviour therapy).

De-reflection :

Teknik logoterapi lain adalah “de-reflection”, yaitu memanfaatkan kemampuan transendensi diri (self-transcendence) yang dimiliki setiap manusia dewasa. Setiap manusia dewasa memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dan tidak lagi memperhatikan kondisi yang tidak nyaman, tetapi mampu mengalihkan dan mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Di sini klien pertama-tama dibantu untuk menyadari kemampuan atau potensinya yang tidak digunakan atau terlupakan.Ini merupakan suatu jenis daya penarik terhadap nilai-nilai pasien yang terpendam. Sekali kemampuan tersebut dapat diungkapkan dalam proses konseling maka akan muncul suatu perasaan unik, berguna dan berharga dari dalam diri klien.

De-reflection tampaknya sangat bermanfaat dalam konseling bagi klien dengan pre-okupasi somatik, gangguan tidur, dan beberapa gangguan seksual, seperti impotensi dan frigiditas.