Teori Behaviorisme – Psikologi Thorndike, Pavlov, Skinner, Bandura

Home » Psikologi » Teori Behaviorisme – Psikologi Thorndike, Pavlov, Skinner, Bandura

Teori Behaviorisme adalah teori yang pada prinsipnya mempelajari tentang perilaku pada manusia.

Perspektif behaviorisme berfokus terhad proses belajar belajar dalam menerangkan tingkah laku dari seorang manusia dan hal tersebut terjadi akibat adanya rangsangan (stimulus) sehingga menimbulkan reaksi perilaku (respons) dengan hukum-hukum yang bersifat mekanistik.

Asumsi mendasar tentang tingkah laku dipandang dengan teori behaviorisme ialah bahwa tingkah laku pada dasarnya ditentukan oleh aturan, dapat ditentukan, dan dapat diramalkan.

Dalam pandangan teori ini, munculnya tingkah laku tertentu disbabkan karena adanya proses belajar dari pengalaman-pengalaman mereka yang telah dilewati, kemudian menghubungkan behavior tersebut dengan reward.

Apabila ingin mempelajari tentang kejiwaan manusia, maka amatilah tingkah laku yang muncul dari subjek, maka data yang diperoleh akan valid serta dapat dipertanggungjawabkan sisi keilmiahannya.

Di bawah ini adalah teori behaviorisme dalam pandangan beberapa tokoh

Tokoh Teori Behaviorisme

Edward Lee Thorndike, Teori Connectionism (S-R Bound)

Menurut Thorndike (1911), dia merupakan salah satu pendiri aliran ini, teori behaviorisme dikaitkan terhadap belajar merupakan proses interaksi dia arah antara stimulus (dapat berupa perasaan, pikiran, atau perilaku) dan respons (yang tentu saja juga berbentuk perasaan, pikiran, dan gerakan).

Menurut Thorndike, perubahan perilaku dapat berbentuk sesuatu hal yang konkret (dapat dilihat), atau juga dapat berbentuk non-konkret (tidak bisa dilihat). Dalam penerapannya, seseorang dapat mengalami peningkatan kemampuan tertentu dikarenakan terdapat interaksi orang tersebut dengan fasilitas pembelajaran, dapat berupa buku, guru, video, atau hal lainnya.

Meskipun Thorndike tidak menerangkan dengan jelas mengenai cara mengukur aneka tingkah laku yang bersifat non-konkret, tetapi teorinya telah memberikan banyak inspirasi terhadap pakar lain yang hadir sesudahnya.

Pengukuran adalah salah satu obsesi dan validasi teori ini. Teori Behaviorisme Thorndike ini saat ini disebut aliran koneksionisme (connectionism).

Awalnya, eksperimen Thorndike dilakukan dengan menggunakan kucing sebagai subjek. Ia mengurung kucing tersebut konstruksi pintu yang dibuat khusus, sehingga apabila kucing berhasil menyentuh tombol, maka pintu otomatis akan terbuka.

Dengan terbukanya kucing tersebut, merkea dapat keluar sehingga akan menggapai makanan di luar kurungan tersebut sebagai daya tarik sekaligus hadiah bagi kucing yang kelaparan itu.

Kucing tersebut pada dasarnya tidak tahu cara membebaskan dirinya sendiri dari kurungan tersebut, namun dia belajar memperhatikan respon – respon yang tepat dalam menghadapi situasinya dan mengeliminasi atau menghapus respon – respon yang salah.”\

Ivan Pavlov, Teori Classical Conditioning

Classic Conditioning (pengkondisian klasik) berawal dari eksperimen Pavlov terhadap anjing, eksperimennya benar-benar menggambarkan suatu proses belajar melalui asosiasi antara stimulus yang berasal dari lingkungan dan memiliki sifat alamiah.

Pavlov mengkondisikan sinyal yang bersifat netral untuk menerjemahkan refleks tertentu secara alami. Sinyal netral tersebut berupa suara, refleks alamiah yang diamati ialah mengeluarkan air liur yang dikatakan sebagai respon.

Dalam waktu tertetu setiap jam makan, pavlov akan membunyikan suara tertentu sebelum memberikan makanan tersebut pada anjing yang menjadi subjek eksperimen. Singkatnya hal tersebut diulang terus menerus, sampai pada akhirnya ia membunyikan suaranya tanpa memberi si anjing makanan.

Hasilnya, air liur anjing tersebut tetap keluar. itulah teori behaviorisme yang dilakukan pavlov.

Burrhus Frederic Skinner, Teori Operant Conditioning

Skinner bereksperimen terhadap tikus yang diletakkan pada kandang. Lalu ia menempatkan sebuah bel. Apabila bel tersebut ditekan, otomatis tempat makanan bergerak, kemudian makanan tersebut akan terjatuh ke dalam kandang.

Dalam eksperimen ini, perilaku tikus tersebut mula-mula ialah melompat-lompat juga mencakar area kandang.

Namun pada saat tertentu, tikus tersebut secara tidak sengaja menekan bel yang menyebabkan tempat makanan bergerak dan makanan akhirnya jatuh.

Aksi si tikus ini disebut sebagai “emitted behavior”. Emitted behavior adalah suatu perilaku yang muncul dengan tidak adanya stimulus tertentu yang muncul sebelumnya.

Makanan yang pada akhirnya jatuh disebut dengan reinforce yaitu perilaku operant yang berpotensi terus meningkat jika diikuti dengan reinforcement.

Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku mahluk hidup bukanlah sekadar bentuk respon dan stimulus, namun ini adalah sebuah tindakan yang terstruktur atau operant / disengaja.

Perilaku adalah hal yang dilakukan sebuah mahluk pada keadaan tertentu. Perilaku dalam hal ini adalah sesuatu terletak antara dua buah pengaruh diantaranya pengaruh pendahulu (antecedent) dan pengaruh yang mengikuti (konsekuensi). Perilaku ini dapat dirumuskan secara sederhana sebagai berikut:

Antecedent –> Tingkah Laku –> Konsekuensi ( A  –> B –> C ).

Maka dari itu, sebuah perilaku dapat berubah dengan dimulai dari mengubah antecedent, konsekwensi, atau mengubah keduanya. Menurut teori behaviorisme Skinner, konsekwensi tersebut sangat memengaruhi seseorang akan mengulangi perilaku di waktu pada masa depan.

Albert Bandura, Teori Social Learning

Experiment seorang Alber Bandura disebut dengan Bobo doll, ia tidak sendirian karena ada dua rekan lainnya yaitu Sheila A. Ross dan Dorothea Ross.

Pada 1961 dan 1963 Eksperimen itu dilakukan, tujuannya mengamati tingkah laku imiatasi atau peniruan anak-anak pada perilaku agresif seseorang.

Bobo doll sebetulnya ialah nama boneka yang jika dipukul akan kembali karena diberikan cairan tepat pada titik gravitasinya.

Ekseperimen itu menggunakan 36 anak perempuan dan 36 anak laki-laki sebagai subjeknya. Mereka adalah orang yang terdaftar pada Standford University Nursery School. Usianya sekitar 37 hingga 69 bulan, dengan rata-ratanya dalah usia 52 bulan.

Tidak hanya itu, eksperimen itu juga menggunakan 2 orang dewasa, seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berperan menjadi model yang akan diperlihatkan pada anak-anak itu.

Anak-anak tersebut dibagi 2 kelompok yaitu yang berisi 48 anak dan ada juga kelompok kontrol berisi 24 anak. Lalu dibagi lagi menjadi 8 kelompok kecil, masing-masing berisi 6 anak.

Kelompok eksperimen tersebut kemudian diberikan perlakuan tertentu sedangkan kelompok kontrol sama sekali tidak diberikan perlakuan.

Setengah dari kelompok eksperimen kemudian diberikan perlakuan tertentu dengan model agresif. Setengahnya kemudian diberikan perilaku tidak agresif.

Singkatnya pada penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa kelompok yang terpapar serta melihat perilaku agresif dari contoh modelnya, cenderung akan memperlihatkan respon tindakan agresif juga (seperti perlakuan modelnya).

Sebaliknya kelompok yang diperlihatkan tingkah laku agresif cenderung bertindak lebih agresif algi dibanging dengan kelompok yang tidak terpapar. Tindakan agresif tersebut berupa fisik dan verbal.

Jenis kelamin model juga menentukan keagresifan tertentu dan subjeknya. Laki-laki yang diperlihatkan contoh agresif oleh laki-laki cenderung ditiru, sedangkan pada perempuan tidak separah laki-laki.

Selengkapnya tentang teori behaviorsime ini silahkan baca di daftar pustaka.

Tahap Perkembangan Menurut Teori Behaviorisme

Fakta menarik tentang teori behaviorisme ini dalam perkembangan seseorang ialah bahwa dasar dari perkembangan merupakan hal yang kritis. Sikap, kebiasaan serta pola tingkah laku yang dibentuk dalam masa tahun pertama, akan menentukan seberapa kuat individu dapat menyesuaikan diri terhadap kehidupan mereka pada tahun-tahun selanjutnya.

Menurut tokoh teori behaviorisme bernama Erikson, ia mengatakan bahwasanya masa bayi juga merupakan masa seorang individu mempelajari sikap percaya dan tidak percaya, hal ini tergantung terhadap bagaiamana orang tua mereka memuaskan kebutuhan yang anaknya butuhkan seperti perhatian, kasih sayang, serta fisik (makanan).

Daftar Pustaka Teori Psikologi Behaviorisme